Karena Aku Manusia

Ketika aku menjadi bocah kecil, Jangan kau menjadi badut. Karena aku akan takut. Ketika aku menjadi api,  Jangan kau menajadi air suci. Karena aku akan takut. Ketika aku menjadi gelap, Jangan kau menjadi terang. Karena gelap akan tersilap oleh terang Ketika aku menjadi manusia,  Jangan kau menjadi malaikat surga. Karena aku manusia.

KETAKBERATURAN SUSUNAN KATA


 
Sunyi, redamkan seluruh gejolak dalam ruang kecil, kosong namun tetap terisi walaupun tak pernah penuh. Detaknya mulai kurasakan cepat tak beraturan. Gelap, tiada satupun terlihat tak ada lagi yang mampu menerangi diantara sekelilingnya. Sunyi menghimpit, sesak, gelap, benar-benar telah menutup pandangan. Tak ada sedikitpun celah untukku bergerak. Terdengar suara langkah kaki sangat cepat mengejarku, suara apa ini, aku tak dapat melihatnya, sangat gelap, siapa disana. 
 Ku coba diam, ku perhatikan suaranya, dan terdengar semakin pelan. Oh tidak, bukan..bukan…itu hanya suara detak jantungku yang mulai beraturan.

Kenangan-kenangan yang kembali di putar oleh ingatan. Memaksa untuk menikmatinya kembali. Terasa menelan pil terpahit dari tanganku sendiri. Deretan-deretan kisah sama sekali tiada bermakna, tak dapat sedikitpun yang bisa dijadikan bekal, untukku berjalan dan melewati bukit gelap ini. Entah apa yang ada di depan sana, jurang, bebatuan, atau mungkin taman yang indah, tak pernah tahu, tak pernah terlihat. Biasanya masih ada sinar matahari yang memantulkan cahanya terhadap bulan ke bumi. Namun disini semua itu tak berlaku. Cahaya lilin yang menjadi simbol keindahan dalam kegelapan, itu hanya ada di istana dongeng saja sepertinya. Jangankan satu abad, satu second pun tak dapat tertembus untuk kulihat apa yang akan terjadi setelah ini. Keterbatasan yang sangat rapat. 

Gubuk reot yang siap menerima kenyataan bahwa ia akan rubuh oleh angin laut. Dan gedung-gedung pencakar langit, tersusun oleh pondasi-pondasi kokoh, yang siap hancur oleh angin puting beliung. Semua ini hanyalah keterbatasan. Setiap yang kuat ada yang lebih kuat dan ada yang Maha Kuat, setiap yang tinggi ada yang lebih tinggi, dan ada yang Maha Tinggi. Semua ini pada akhirnya akan hancur kecuali Dia yang Maha Kuat dan Maha Tinggi, karena sesungguhnya memang ia kekal selama-lamanya. 

Runtuh, lebur hingga menjadi fosil-fosil yang akan abadi pada saatnya nanti. Andaikata semua dapat berubah menjadi fosil termasuk kenangan. Akan ku minta waktumu sedetik saja untuk ku jadikan fosil. Sedetik yang segala kehadirannya dipersembahkan hanya untukku dan hanya denganmu. Tidak untuk dan dengan ribuan hal-hal lain yang ada. Aku dan kamu. Yang akan ku jadikan bukti nanti, bahwa kita pernah bersama, bukan sekedar memori atau kenangan saja. Mengenangmu, sebenarnya dirikupun jenuh melakukan hal ini, karena aku akan menghabiskan lebih dari 3600 second hanya untuk melihat tayangan film kita yang telah di putar oleh otakku. Penayangan film yang membosankan, selalu itu-itu sja yang diputar. 

Rekaan-rekaan bayang berangsur menghilang, sisi gelap kembali memudar, satu persatu pergi meninggalkanku. Sang terang kembali mengampiriku, memapahku, dan memaksaku untuk berdiri. Jalanpun mulai terlihat, hamparan kering, jurang curam, taman indah. Ternyata semua tak ada. Yang ada hanyalah jalan lurus panjang, dan bagaimana aku harus membuat jalan itu menjadi sesuatu yang berbeda, tidak hanya lurus dan hamparan saja. 

Mata masih saja belum bisa tertutup, malam tinggal seperempat. Ruangan ini tak lagi kosong, kepulan asap mulai mengisinya kembali. Serpihan-serpihan bekas pembakaran, masih tersisa di tempat biru itu. Setetes air mengalir diantara daun hijau yang masih tersisa diantara dedaunan kering pepohonan. Suasana lembab mulai terasa kembali setelah pemutaran film yang membosankan tadi. Ternyata malam ini belum juga berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MY WAY - FRANK SINATRA ( LIRIK & ARTI )

Karena Aku Manusia

Pesan Untukmu Merpati