Masih terlalu lemah logika ku
untuk melawan untuk apa yang ada dalam hati dan perasaanku ini. Tapi
inilah yang harus aku lakukan. Pesonamu
membuatku menggilaimu hingga segila-gilanya. Dan sekarang ini menjadi senjata
yang berbalik menyerang dan membunuhku hingga aku tak mampu untuk menahannya.
Keputusan yang telah ku buat kini menyudutkanku. Tanpa ku sadari sepertinya aku
betul-betul telah menyakitimu.
“Bagaimana
mungkin aku yang menyakitimu ?”
“Bukankah
awalnya memang ini yang kau inginkan..?”
“Apa
sebenarnya yang ada dalam pikiran dan perasaanmu..?”
“Seperti apa
sebenarnya perasaanmu kepada ku ? , aku tak pernah mengerti itu..!!”
Satu hal yang kurasakan sejak
waktu masih kita lewati bersama, sepertinya kau tak pernah serius menjalani
semua ini. Hanya itu saja pertanda yang ku tangkap darimu. Tak lebih hanya
sekedar “Status”. Jika memang aku salah mengartikannya, maafkanlah aku. Karena
aku bukanlah manusia yang bisa membaca setiap apa yang ada dalam pikiranmu.
Aku bukanlah manusia suci dan
sempurna itu aku akui, dan seharusnya kau pun juga harus sadar bahwa kau juga
bukanlah Bidadari yang indah wangi. Kita hanyalah manusia biasa yang penuh
dengan kesalahan walaupun sekecil apapun.
Tenang saja, rasa sayangku
kepadamu masih ku simpan dan sesungguhnya sedikitpun tidak pernah berkurang.
Ketika kamu tertawa dan menangis pun masih mengingatnya. Sebenarnya aku juga
rindu dengan suaramu. Akupun masih sangat menginginkanmu. Tapi untuk saat ini
diriku mulai sadar, bahwa aku harus belajar meninggalkanmu. Bukankah kamu juga
sering mengingatkannya kepadaku.
Seiring berjalannya waktu
akhirnya kita pun harus berpisah juga. Setidaknya kita pernah mencobanya,
walaupun pada akhirnya harus kembali gagal.
Aku ingin kau tetap tersenyum
merpati putihku.
Komentar
Posting Komentar